Pilihlah Saya!

Januari 29th, 2009 by geer

 

 

Pemilu itu musimnya orang geer (gede rasa). Semua orang yakin terpilih menjadi anggota parlemen. Mereka merasa percaya diri akan dicintai rakyat. Tak heran, dengan ke-pede-an yang menggelikan, mereka memohon,”pilihlah saya.”

Pilihlah saya itu tak jauh beda dengan ungkapan menghiba dari anak muda yang baru meretas puber dan mencintai lawan jenis. Berbagai cara dilakukan untuk memancing perhatian, macam upaya dijalani untuk meraih cinta sang pujaan.

Tapi benarkah mereka menganggap rakyat itu pujaan? Tuluskah cinta mereka? Jangan-jangan hanya ungkapan bodong si hidung belang yang sedang mencari mangsa? (*)

Ketok Pintu, Bayar Sejuta

Januari 28th, 2009 by geer

Untuk urusan jualan kecap, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) jagonya. Partai ini pandai mengemas isu, memoles kata-kata, dan menawarkan sesuatu yang berbeda. Kecap PKS juga sudah nge-branding: ”Partai kader dan solid”.

Iklan politik PKS di media massa cukup mudah dicerna publik, tentu dengan pengecualian iklan ’Soeharto Pahlawan’ yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

Entah itu berasal dari konsultan media atau dari PKS sendiri, kecerdasan memoles citra itu patut mendapat apresiasi. Contohnya spanduk ’Ketok Pintu 1 Juta Rumah Tetangga’ ini. Spanduk ketok pintu sejuta rumah itu mengesankan PKS siap dengan segala infrakstrukturnya untuk menyapa langsung publik pemilih.

Bagus…asal jangan sampai mendapat respon terbalik,”Ketok pintu, bayar sejuta!”

Saya lahir 17 Agustus Lho..

Januari 28th, 2009 by geer

17 Agustus adalah momen yang sakral bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal itu, bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Sejenak merenungkan rekam jejak pahlawan bangsa memanggul senjata mengusur kumpeni Belanda. Begitulah kira-kira.

Sebagai sesuatu yang sakral, orang yang kebetulan memiliki tanggal kelahiran sama dengan dirgahaya republik ini merasa bangga, nasionalismenya menggelembung, dan  kecintaannya pada negeri membuncah. Karena lahir 17 Agustus,”Saya bangga menjadi orang Indonesia.” Ha.

Ok. Itu lumrah. Menjadi tidak lumrah jikalau tanggal lahir 17 Agustus dianggap bisa meningkatkan popularitas dan elektabilitas seorang caleg. Menjadi aneh andai ada orang yang bermimpi meraih kursi empuk parlemen dengan berujar,”Saya paling tepat lho menjadi wakil anda karena saya lahir 17 Agustus. Saya bisa membawa aspirasi konstituen karena saya lahir berbarengan dengan HUT RI.”

”Percayalah. Saya orang terpercaya. Saya adalah orang yang paling tepat untuk memperjuangkan penghapusan buruh kontrak/outsourcing dan melindungi buruh migran. Kenapa? Karena saya lahir 17 Agustus 1961.”

Ada-ada saja.